Dikelola Humas DPW PKS Sulawesi Utara. Diberdayakan oleh Blogger.

Amir Liputo, Amirul Hajj, dan Amirul Mukminin



Nama lelaki itu adalah Amir Liputo. Seorang warga Manado yang kini menjadi Anggota Dewan DPRD Sulawesi Utara dari Daerah Pemilihan Kota Manado. Posisinya di Komisi II adalah sebagai Wakil Ketua. Pada Pemilihan Umum tahun 2014 lalu, ia maju sebagai Caleg melalui Partai Keadilan Sejahtera. Kini ia tinggal di Kelurahan Mahawu, Kecamatan Tuminting, Kota Manado.

Sepak terjang lulusan Sarjana Hukum di dunia politik Sulawesi Utara itu sudah sangat dikenal masyarakat, khususnya warga Muslim Manado, dimana ia pernah menjadi Anggota Dewan DPRD Kota Manado pada pemilihan Umum tahun 2009.

Kehidupan sosialnya dikenal sebagai pribadi yang ramah dan suka menolong. Setiap kali ada warga di Daerah Pemilihannya yang mengalami kedukaan, maka ia selalu berusaha hadir untuk bertakziah dan menyampaikan rasa duka. Demikian pula jika ada warga yang sakit, ia akan hadir menjenguk mereka untuk menyampaikan doa dan dana. Terlebih lagi jika ada bencana alam atau bencana lainnya. Ia akan bergerak bersama Kepanduan PKS turun dan aktif membantu warga.

Selain itu ia aktif dalam kegiatan relijius di Sulawesi Utara dan menjabat sebagai Ketua Peringatan Hari Besar Agama Islam (PHBI) Kota Manado. Dari jabatan inilah pada tahun 2016 ia diamanahi menjadi Amirul Hajj Propinsi Sulawesi Utara oleh Kementerian Agama.

Pelayanannya sebagai seorang Amirul Hajj diberikannya secara totalitas. Persiapan pelaksanaan haji dari rombongan Propinsi Sulawesi Utara ia monitor dengan seksama.

”Tentunya haji merupakan cita-cita mulia bagi kita semua ummat Islam. Dengan begitu untuk menuju pada suatu tahapan yang disebut haji, maka kita perlu menyiapkan diri, menyiapkan mental, kesehatan, selain niat suci tentunya. Proses haji itu memiliki rukun-rukunnya, kemarin kami sudah melakukan rapat dan menyepakati beberapa hal soal operasional atau biaya lokal khusus tahun 1437 Hiriah/2016 yang harus diselesaikan para calon jamaah haji. Batas waktu untuk membayarnya adalah 1 Agustus 2016,” ujar Amir Liputo seperti dikutip Sulut Today.

Saat pelaksanaan ibadah haji berlangsung, Amir Liputo tidak mau bersikap laksana seorang raja yang memperoleh pelayanan dari dayang-dayang. Ia mencontohkan sikap laksana pelayan bagi orang yang dipimpinnya. Hal itu ditunjukkannya saat para jamaah haji dari Sulawesi Utara melaksanakan lempar jumrah.

Adalah Nenek Alia Langkau yang kelelahan setelah melaksanakan rangkaian ibadah wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Aqabah.

Setelah proses panjang itu, Nenek Alia Langkau diserang sakit dan tak mampu melanjutkan perjalanan kembali. Melihat hal tersebut, tanpa diperintah, Amir Liputo yang masuk dalam Maktab 14 Kloter 10 Balikpapan, menggendong Nenek Alia dan berjalan bersama jemaah haji lainnya untuk melanjutkan penyelesaian prosesi haji hingga kembali ke asrama penginapan haji. Tindakan Liputo, mendapat apresiasi jamaah haji lainnya.

Kisah Amir Liputo ini mengingatkan kita pada kisah pelayanan seorang pemimpin pada rakyatnya, yakni kisah Amirul Mukminin Umar bin Al Khathab.

Dikisahkan dalam sejarah bahwa di Tahun Paceklik, bersama pembantunya Aslam, Amirul Mukminin Umar bin Al Khathab berada di suatu kampung terpencil. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Amirul Mukminin dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.
Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.

Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakkan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Kau lihatlah sendiri!”

Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-btu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Begitulah seorang pemimpin, melayani mereka yang dipimpinnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar