Dikelola Humas DPW PKS Sulawesi Utara. Diberdayakan oleh Blogger.

PKS dan Konsep Wasathan

Senin, 20 April 2015, 22:15 WITA

sulut.pks.id, Manado-- Ketua Dewan Syariah KH Surahman Hidayat berpendapat bahwa model interaksi yang dikembangkan dan dilakukan oleh PKS adalah konsep Wasathan (pertengahan).

"PKS memposisikan diri sebagai organisasi yang wasathan. Ia bisa dekat dengan NU, Muhamadiyah, Syarikat Islam ataupun dengan organisasi-organisasi Islam lainnya. Sama-sama dekat, bukan sama-sama jauh,"katanya di sekertariat DPW PKS Sulawesi Utara, Senin Malam.

Menurutnya, dalam membina, mengarahkan dan memimpin masyarakat dimanapun, nilai-nilai wasathan inilah yang harus terus menerus ada dan perlu disebarluaskan.

"Pergaulan juga perlu dilakukan dengan saudara-saudara kita yang non muslim dengan kesantunan kultural yang ada pada masyarakat tersebut. Islam adalah umat yang pertengahan dan selektif. Secara kolektif kita adalah Umat dan secara selektif kita adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia karena mengajak keapada kebaikan dan perbaikan serta melarang dan menghindari kerusakan," ujar Surahman disela-sela kesibukannya melakukan kunjungan kerja sebagai Pimpinan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang pada periode sebelumnya bernama Badan Kehormatan DPR di Sulawesi Utara.

Hal tersebut disampaikan Surahman menanggapi isu-isu yang berkembang ditengah masyarakat tentang gerakan-gerakan radikal yang mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara.

"PKS tidak boleh terjebak dalam skenario pihak-pihak yang ingin memasukkan PKS kedalam kelompok Islam radikal. Dalam kemaslahatan dakwah, PKS berada pada masyarakat Islam yang mainstream (umum, biasa, lumrah, wajar dan tidak aneh). PKS menjadi rumah tempat tujuan semua orang tanpa melihat asal-usul dan latar belakang, sebagaimana rumah Nabi Muhammad saat berinteraksi dengan masyarakat Quraisy. Orang banyak datang  ke kader-kader PKS sehingga memperoleh manfaat dari kehadiran para kader dimanapun berada,".

Didampingi anggota dewan provinsi, Hi. Amir Liputo dan kader lainnya di kota Manado, Surahman menutup dengan ajakan memandang segala persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dengan cara pandang ukhrowi, bukan cara pandang duniawi.
"Kita melakukannya dengan cara pandang ukhrowi, bukan cara pandang duniawi, karena nadzhoroh ukhrowi adalah pembuka kelapangan. Allah telah menjamin jalan itu, tetapi harus melalui tahapannya. Allah akan menolong hambaNya jika ia menolong hambaNya yang lain".
Diaz Ahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar